Rabu, 07 Desember 2011

laporan praktikum katak sawah

LAPORAN PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA Classis Amphibia Memahami struktur dasar tubuh katak sawah ( Rana cancrivora ) Senin, 31Oktober 2011 Nama : GENTA SURI MUDA Npm : 09321112 Prodi : Pendidikan Biologi Kelas : B Kelompok : 6 LOBORATORIUM PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2011 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan jumlah sel di dalam tubuh makhluk hidup terbagi dalam dua kelompok, yaitu makhluk hidup bersel tunggal (uniseluler) dan makhluk hidup bersel banyak (multiseluler). Untuk memahami hewan bersel banyak, perlu dipelajari terutama hewan vertebrata dan hewan invertebrata. Hewan vertebrata adalah hewan bertulang belakang, sedangkan hewan invertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Hewan vertebrata terbagi atas beberapa kelas diantaranya adalah aves, reptil, pices, amphibi dan mamalia. Tubuh hewan terdiri dari berbagai organ tubuh. Organ-organ yang bekerja sama dalam melakukan fungsi yang lebih tinggi membentuk organ. Dalam praktikum ini akan dilakukan pengamatan susunan anatomi tubuh katak sawah (Rana cancrivora). Anatomi katak dapat memberikan gambaran umum organ-organ utama pada hewan vertebrata. Katak sawah (Rana cancrivora) merupakan jenis katak yang mudah didapatkan dan tidak berbahaya (tidak beracun), selain itu hewan ini mempunyai sistem pencernaan dan reproduksi yang lengkap sehingga dapat mewakili hewan vertebrata lain, termasuk manusia. Oleh karena itu, katak hiaju digunakan dalam praktikum Pengamatan Hewan. 1.2. Acara Acara dalam praktikum kali ini ada dua, yaitu : 1. Studi tentang bentuk luar tubuh katak sawah Rana cancrivora (Inspectio) 2. Studi tentang topografi alat-alat Visceral katak sawah Rana cancrivora (Sectio) 1.3. Tujuan Praktikum ini dilaksanakan dengan tujuan, yaitu : 1. Agar praktikan dapat mengidentifikasi bentuk luar tubuh Rana cancrivora. 2. Agar praktikan dapat mengidentifikasi topografi alat-alat visceral Rana cancrivora. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Amphibia berasal dari kata amphi (rangkap) dan bios (kehidupan) karena amphibia merupakan hewan yang hidup dengan dua bentuk kehidupan yaitu pada awalnya di air tawar selanjutnya di darat. Fase awal (di dalam air) sebelum alat reproduksinya terbentuk atau merupakan fase larva (disebut berudu), selanjutnya setelah tumbuh columna vertebralisnya dan digiti mulailah katak hidup di darat. Namun demikian ada juga yang selamanya hidup di air atau di darat saja sehingga ada yang menamakannya dengan Batrachia (batachos, katak). (Arie, 1999 : 10) Amfibi merupakan kelompok vertebrata pionir yang hidup di air dan hidup di darat. Salah satu contoh hewan jenis ini adalah katak. Katak tidak mempunyai leher dan ekor, pada tingkat kecebong hidup dalam air dan bernafas dengan insang, setelah dewasa hidup di darat dan bernafas dengan paru-paru. Kelas amfibi merupakan hewan yang sering digunakan dalam bidang pendidikan untuk penilitian, karena struktur katak hampir sama dengan vertebrata tingkat tinggi lainnya. Selain amfibi katak juga termaksud hewan salamender, habitat hewan ini terbagi dua yaitu di darat dan di laut. (Jasin, 1992 : 54) Katak merupakan salah satu kelas amphibi yang memiliki panjang mulai dari 3,5 cm sampai dengan 90 cm. Amphibi merupakan vertebrata yang hidup di dua alam, yaitu di darat dan di air. (Radiopoetro, 1996 : 65) Rana cancrivora (Graven horst/katak sawah) memiliki kulit berwarna hijau, bercak hitam. Kadang-kadang pada bagian punggungnya bergaris cokelat muda. Habitat ditemukan di sawah dan saluran irigasi sekitar sawah. Kemampuan beradaptasinya tinggi karena merupakan hewan berdarah dingin yang suhu tubuhnya selalu mengikuti suhu sekelilingnya. Ciri khas dari kodok adalah adanya gendang telinga sebelah belakang matanya pada kedua sisi kepalanya. Binatang ini berbadan agak unik yaitu pendek, bermata besar dengan tungkai belakang panjang. (Susanto, 1994 : 20). BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Alat Dan Bahan a. Alat b. Bahan 1. Botol pembius 1. Katak Sawah (Rana cancarivora) 2. Baki bedah 2. Kapas 3. Alat bedah 3. Kloroform/Eter (pembius) 3.2. Cara Kerja a. Kegiatan Inspectio 1) Mengamati seecara seksama preparat yang dipakai. Menggambar bentuk luar tubuh preparat, sehingga menjadi jelas informasi mengenai bentuk tubuh, pembagian wilayah tubuh, dan alat-alat tubuh yang tampak dari luar. 2) Memberi keterangan lengkap bagian-bagian dari :  Caput : rima oris, nares anterior, organon visus, membrane tymphani, dan sebagainya.  Truncus : dorsum, ventrum/abdomen, lateral, muara cloaca/anus, extremitas anterior (brachium, antebrachium, manus, 4 digiti), extremitas posterior (femus, crus, pes/pedes, selaput renang, 5 digiti). 3) Melengkapi pengamatan inspection terhadap masing-masing bagian organ secara detail bagian-bagian dari mata, telinga, hidung, kulit, dll. b. Kegiatan Sectio 1) Mematikan dahulu preparat dengan uap chloroform/eter sebagai pembius. 2) Mencuci katak yang telah mati dengan air yang mengalir. 3) Melakukan pembendahan di atas papan bedah/bak parafin. Melakukan pengguntingan yang dimulai dari kulit perut antara kedua lipat paha menyusur garis tengah badan ke arah depan sampai dadanya. Selanjutnya menggunting sistem muscularnya dengan arah yang sama. 4) Mengamati situs viscerum (alat dalam) Rana cancarivora, menentukan jenis kelaminnya. Selanjutnya menggambar dan memberi keterangan secara lengkap istilah latin diikuti istilah indonesianya. Untuk organ yang tertutup oleh organ lain digambar dengan garis putus-putus :  Caput (daerah cavum oris) : dentes maxillaries, nares posterior, palatum, pharynx, os vomer (dengan dantes), ostium tubae auditivae, rima glotidis, lubang ke saccus vocalis (hanya pada katak jantan), lingua bifida.  Truncus : cor, hepar ventriculus, intestinum, cloaca, pancreas, lien, ovarium, oviduct, uterus, atau testes, vasa efferentia, vesica seminalis, mesonephros, ductus mesonephridicus (ureter), vesica urinaria, pulmo, vesica felea. Mengamati masing-masing organ secara detail. BAB IV ISI 4.1. Data Hasil Pengamatan Data hasil pengamatan berupa gambar yang tertempel di halaman bagian belakang atau sebagai lampiran. 4.2. Pembahasan Klasifikasi dari katak hijau (Rana cancrivora) yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Super class : Amphibia Ordo : Anura Famili : Ranidae Genus : Rana Spesies : Rana cancrivora Hasil yang diperoleh dari pengamatan morfologi katak hijau (Rana cancrivora), bahwa struktur morfologi katak terdiri dari kepala (Caput), lubang hidung (Nares eksternal), mata (Cavum oris), telinga (Membran tympani), Ekstremitas anterior : lengan atas (antebrakchium), lengan bawah (brakchium), jari (Digiti), punggung (Dorsum), Perut (Abdomen), sedangkan Ekstremitas posterior : paha (Femur), betis (Crus), kaki (Pes) dan selaput antar jari (Membran). Morfologi katak sawah (Rana cancrivora) tediri dari Mata (Cavum oris), Kepala (Caput), Lubang Hidung (Nares eksternal), Gendang Telinga (Membran tympani), Tungkai Depan (Ekstremitas anterior), Perut (Abdomen), Tungkai Belakang (Ekstremitas posterior) dan kloaka. Selain itu juga terdapat selaput diantara jari-jari kaki yang berfungsi membantu katak berenang di air sehingga katak dapat hidup di darat dan di air. Pada pengamatan sistem pencernaan diperoleh hasil bahwa sistem pencernaan katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari mulut, kerongkongan (Esofagus), lambung (Ventriculus), usus halus (Intestinum tenue) yang juga terdiri dari tiga saluran yaitu usus dua belas jari (Duodenum), usus kosong (Jejunum) dan penyerapan (Ileum). Kemudian dilanjutkan pada usus besar (Intestinum crasum) atau yang biasa di sebut Colon dan terakhir bermuara di kloaka. Saluran pencernaan pada katak hijau (Rana cancrivora) dimulai dari rongga mulut, dan pelepasan terakhir di kloaka. Setelah makanan masuk melalui mulut yang terdapat gigi pada rahang atas langit-langit yang berbentuk kerucut, dan lidah yang bercabang dua dimana fungsinya sebagai alat penangkap mangsa, lalu dengan bantuan gigi dan kelenjar air ludah kemudian makanan masuk ke kerongkongan (Esofagus) yang merupakan saluran pendek yang dilalui makanan untuk menuju ke lambung (Ventriculus), dimana lambung (Ventriculus) tersebut hanya berupa kantung yang tergantung dan dapat menjadi besar apabila terisi makanan. Setelah itu, sari-sari makanan yang telah halus diserap oleh dinding usus halus (Intestinum tenue) yang banyak mengandung pembuluh kapiler darah. Sedangkan usus ini berakhir di kloaka yang berfungsi sebagai alat ekskresi, tetapi sebelum dikeluarkan melalui kloaka, kotoran sisa makanan ditampung di dalam rektum. Pada pengamatan sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) jantan memiliki sepasang testis yang berfungsi menghasilkan sperma. Sperma yang dihasilkan oleh testis dikeluarkan melalui saluran sperma dan bersama urine keluar melalui kloaka. Kloaka merupakan suatu muara dari tiga saluran yaitu pencernaan, saluran kelamin (Reproduksi), dan pengeluaran (Ekskresi). Katak hijau (Rana cancrivora) jantan memiliki sistem reproduksi sebagai berikut: badan lemak, testis, vas aferen, uterus, kantong sperma, kantong kemih, ginjal, dan kloaka. Sedangkan sistem reproduksi pada katak hijau (Rana cancrivora) betina yaitu berupa sel telur, ovarium, uterus, ureter, ginjal, oviduk, kantong kemih dan kloaka. Ovarium pada katak betina berfungsi menghasilkan sel telur (Ovum), sel telur tersebut dikeluarkan menuju oviduk dan selanjutnya keluar melalui kloaka. Sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) betina berupa: sel telur, ovarium, ginjal, uterus, ureter, kantong kemih, oviduk, dan kloaka. Ketika melakukan reproduksi di dalam air, katak betina yang memiliki ukuran lebih besar dirangkul oleh pejantan. Selain itu diketahui bahwa katak betina memiliki sepasang ovarium yang mengeluarkan telur. Apabila telur sudah masak, katak betina menuju ke air kemudian katak jantan datang dan menaiki punggung katak betina. Selanjutnya katak betina mengeluarkan telur ke dalam air dan bersamaan dengan itu katak jantan mengeluarkan spermanya. Telur yang sudah dibuahi menyerap air sehingga membesar kemudian berkembang menjadi embrio. Embrio mendapat makanan dari kuning telur, kurang lebih seminggu setelah pembuahan embrio berkembang menjadi berudu. Selanjutnya katak berkembang terus megalami perubahan yang disebut dengan metamorfosis. 1. Struktur morfologi katak (Rana cancarivora) a. Mata, kelopak mata, dan selaput tidur b. Pada katak memiliki dua mata (sepasang), lalu bola mata dilindungi oleh dua buah kelopak mata berupa kulit yang tidak dapat digerakkan. Katak juga memiliki selaput mata yang tipis dan bening yang dapat digerakkan dari atas ke bawah yang berfungsi untuk melindungi mata ketika berada di dalam air. c. Lubang hidung luar ada sepasang dan terdapat pada dorsak moncongnya. d. Celah mulut terdapat pada bagian depan yang moncong. Dalam celah mulut terdapat gigi vomer yaitu gigi yang berbentuk gerigi yang terletak pada langit-langit pada rahang yang berfungsi untuk melumatkan mangsanya agar mudah ditelan. e. Selaput pendengar, dekat sebuah caudal mata, terdapat selaput yang sangat tipis. f. Tungkai belakang terdiri atas paha, betis, telapak bersatu, dan berselaput renang yang berfungsi untuk membantu katak melakukan pergerakan dalam air. g. Tungkai depan, terdiri dari lengan atas, lengan bawah, dan jari-jari masing empat buah. 2. Anatomi tubuh katak a. Sistem pencernaan i. Hati terdiri atas tiga lobus, berwarna merah tua. Hati berfungsi menghasilkan empedu yang berperan dalam prooses pencernaan. ii. Lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu kardiak yang terdapat di bagian atas yang berdekatan dengan hati, fundus yang terdapat di bagian tengah, dan filorus yang terdapat di bagian bawah yang dekat dengan hati. iii. Pankreas. Kelenjar berwarna keputihan berbentuk lapisan lonjong terletak dalam simpul yang terbentuk dari duodenum dan permukaan bawah lambung. Pankreas berfungsi menghasilkan getah pankreas yang kemudian dialirkan ke duodenum. iv. Usus halus merupakan saluran pencernaan yang paling panjang. Usus halus terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum. v. Usus besar dilapisi dengan mukosa tanpa lapisan kecuali pada bagian rectum. Usus besar berfungsi pada proses reabsorbsi air dan membentuk lendir. vi. Rektum merupakan bagian paling akhir dari usus besar yang beermuara di kloaka yang berfungsi sebagai lubang pelepasan. b. Sistem peredaran darah Alat peredaan darah katak teriri atas jantung. Jantung katak terletak di dalam rongga dada. Jantung katak terdiri atas 3 ruang, yaitu 2 serambi (atrium kiri dan kanan) dan 1 bilik (ventrikel). Dengan demikian, bilik jantung katak tidak memiliki sekat. Terdapat dua aorta yaitu aorta kiri dan kanan. Peredaran darah katak tertutup karena beredar dalam pembuluh darah, dan ganda karena dalam satu kali beredar darah melewati jantung dua kali. Darah yang mengandung CO2 dari seluruh tubh masuk ke jantung melalui Vena cava (pembuluh balik tubuh). Darah ini mula-mula berkumpul di sinus venosus, dan kemudian karena adanya kontraksi maka darah akan masuk serambi kanan. Pada saat itu darah yang mengandung O2, yang bersal dari paru-paru masuk ke serambi kiri. Bila kedua serambi berkontraksi maka darah akan terdorong ke dalam bilik. Dalm bilik terjadi sedikit pencampuran darah yang kaya O2 dan yang miskin O2. Untuk selanjutnya, darah yang kaya O2dalam bilik dipompa melalui trunkus arteriosus menuju arteri hingga akhirnya sampai di arteri yang sangat kecil (kapiler) di seluruh jaringan tubuh. Dari seluruh jaringan tubuh, darah akan kembali ke jantung melewati pembuluh balik yang kecil (venula) dan kemudian ke vena dan akhirnya ke jantung, sementara itu darah yang miskin dipompa keluar melewati arteri konus tubular, pada katak dikenal adanya sistem porta, yaitu sistem yang dibentuk oleh pembuluh balik vena saja. c. Sistem pernapasan i. Hidung dan rongga hidung, merupakan tempat pertama yang dilalui oleh udara. Rongga hidung dilengkapi dengan rambut, dan selaput lendir yang berguna menyaring udara, menghangatkan, dan melembabkannya sebelum masuk ke paru-paru. ii. Faring adalah pangkal kerongkongan yang berbatasan langsung dengan laring yang dilengkapi katup pangkal tenggorokan. iii. Trakea, terdapat pada leher bagian depan, di belakangnya terdapat kerongkongan. Trakea berbentuk pita yang dibentuk oleh cincin-cincin rawan yang permukaan dalamnya dilapisi selaput lendir yang sel-selnya berambut getar yang berfungsi menolak debu dan benda-benda asing lainnya dari luar dengan cara batuk atau bersin tiba-tiba. iv. Bronkus adalah percabangan dari batang tenggorokan ke kiri dan ke kanan masing-masing menuju ke paru-paru. v. Bronkiolus merupakan percabangan dari bronkus yang berada dalam paru-paru. vi. Alveolus mengandung kapiler darah. Disinilah oksigen berdifusi ke dalam kapiler darah dan diikat oleh hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. d. Sistem ekskresi i. Ginjal (ren), sepasang berwarna merah kecoklatan dan terletak pada bagian dasar dari rongga tubuh di sebelah kiri dan kanan dari vertebrata. Pada permukaan ventral dari ren terdapat kelenjar endoktrin yang dapat menghasilkan hormon adrenalin. ii. Ureter merupakan sepasang saluran yang keluar dari tepi lateral dari ginjal tempat urine dan ditampung di dalam kantong urine. Khususnya pada jantan digunakan untuk lewatnya spermatozoa yang dihasilkan testis. iii. Kantong urine (vasica urinaria) mempunyai dinding yang tipis terletak ventral dari rectum dan bermuara di kloaka. e. Sistem urogenitalia 1. Katak jantan a. Testis, sepasang bulat telur, berwarna putih kekuningan. Terletak di atas ginjal dan berisi cadangan makanan yang digunakan pada musim kawin. Jaringan ini menghasilkan spermatozoid yang dilindungi oleh selaput nesopehium. Spermatozoa dikeluarkan melalui vena efferensia melalui bagian lateral dan ren. b. Vena efferensia. Berupa saluran halus dari testis serta melalui nesorchium. Selanjutnya sperma dikeluarkan melalui ren dan bermuara di ductus urospemachitus. c. Ductus spermachitus, sepasang terletak pada bagian lateral dan ren bermuara di kloaka. Saluran ini menyalurkan spermatozoa dan urine ke kloaka. d. Vesicula seminalis, merupakan bagian caudal dari ductus urospermachitus serta tempat penyimpanan terakhir dari spermatozoa. 2.Katak betina a. Ovarium merupakan sepasang kantong yang terdiri dari sel-sel telur dan bila banyak akan menutupi seluruh bagian abdomen serta dilindungi oleh selaput tipis nesovarium yang dengan bantuan gerakan silia serta otot abdomen telur, telur tersebut didorong ke depan menuju osteum tubae yang terletak di kiri dan kanan dan merupakan pangkal dari saluran telur. b. Saluran telur, sepasang berliku-liku dan berwarna putih telur yang masak dan masuk ke oviduk, dan sebelum bermuara di kloaka akan masuk ke ovisoe (uterus). c. Uterus merupakan tempat penyimpanan sementara sel telur sebelum keluar dari tubuh karena fertilisasi. d. Badan-badan lemak (corvus adivasum) menyerupai daun berwarna kekuningan yang terletak di atas ginjal dan berisi cadangan makanan yang digunakan musim kawin. i. Sistem reproduksi pada amphibi, pembuahannya terjadi secara eksternal, artinya penyatuan gamet jantan dan gamet betina terjadi di luar tubuh. Pada pembuahan eksternal biasanya dibentuk ovum dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih keciil dari pada pembuahan secara internal. Katak jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betinanya dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang katak jantan akan memijat perut katak betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat bersamaan katak jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal metamorfosis. 4.3. Tugas Diskusi A. Pertanyaan 1. Berikan alasan apa sebab katak sawah berada dalam susunan sistematika seperti di atas. Jelaskan masing-masing alasannya ! 2. Buatlah klarifikasi sistem-sistem organ tubuh katak sawah sesuai temuan organ ketika pengamatan struktur tubuhnya ! 3. Adakah perbedaannya terhadap jenis katak yang lain ? Jelaskan ! 4. Adakah persamaannya terhadap jenis katak yang lain ? Jelaskan ! B. Jawaban 1. Alasan katak sawah (Rana cancrivora) dimasukkan dalam klasifikasi diatas adalah : a) Katak sawah dimasukkan ke dalam filum Chordata, karena katak sawah memiliki chorda dorsalis. b) Katak sawah dimasukkan ke dalam subfilum Vertebrata, karena katak sawah memiliki ruas tulang belakang mulai dari kepala sampai ekor dan ruas tulang belakangnya mengalami penulangan dan bersegmen-segmen. c) Katak sawah dimasukkan ke dalam kelas Amphibia, karena katak sawah dalam siklus hidupnya berada di dua alam yaitu darat dan air. d) Katak sawah dimasukkan ke dalam ordo Anura, karena katak sawah dalam keadaan dewasa tidak memiliki ekor. e) Katak sawah dimasukkan ke dalam subordo Phaneroglossa, karena katak sawah memiliki telur yang tidak bercangkang dan kumpulan telurnya berbentuk seperti untaian benang. f) Katak sawah dimasukkan ke dalam famili Ranidae, karena katak sawah memiliki kulit yang licin dan lembab. g) Katak sawah dimasukkan ke dalam genus Rana, karena katak sawah memiliki sifat amphibi yang tidak berekor saat dewasa dan kulitnya yang lembab dan licin. 2. Klarifikasi katak sawah terdiri dari morfologi (inspectio) dan anatomi (sectio) yang terdiri : i. Morfologi katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari kepala (Caput), lubang hidung (Nares eksternal), mata (Cavum oris), telinga (Membran tympani), Ekstremitas anterior : lengan atas (Antebrakchium), lengan bawah (Brakchium), jari (Digiti), punggung (Dorsum), perut (Abdomen), dan Ekstremitas posterior : paha (Femur), betis (Crus), kaki (Pes) dan selaput antar jari (Membran). ii. Sistem pencernaan katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari mulut, kerongkongan (Esofagus), lambung (Ventriculus), usus halus (Intestinum tenue), usus besar (Intestinum crasum) atau yang biasa di sebut Colon dan kloaka. iii. Perbedaan sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) jantan dan betina yaitu pada katak jantan memiliki testis dan kantong sperma yang tidak dimiliki oleh katak betina, sama halnya dengan ovarium dan sel telur yang hanya dimiliki oleh katak betina. 3. Perbedaannya ada, katak sawah berbeda dalam hal nama spesies, ciri-ciri nya yang tidak berekor saat dewasa, kulitnya yang licin dan lembab, serta ciri fisik lainya. Disamping itu dalam bahasa inggris nya pun berbeda antara katak dengan kodok. 4. Persamaannya ada, yaitu sama-sama hewan chordata dan vertebrata. Selain itu sama-sama amphibi yang hidup di dua alam. Reproduksinya pun secara seksual dengan pembuahan secara eksternal. BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a) Morfologi katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari kepala (Caput), lubang hidung (Nares eksternal), mata (Cavum oris), telinga (Membran tympani), Ekstremitas anterior : lengan atas (Antebrakchium), lengan bawah (Brakchium), jari (Digiti), punggung (Dorsum), perut (Abdomen), dan Ekstremitas posterior : paha (Femur), betis (Crus), kaki (Pes) dan selaput antar jari (Membran). b) Sistem pencernaan katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari mulut, kerongkongan (Esofagus), lambung (Ventriculus), usus halus (Intestinum tenue), usus besar (Intestinum crasum) atau yang biasa di sebut Colon dan kloaka. c) Perbedaan sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) jantan dan betina yaitu pada katak jantan memiliki testis dan kantong sperma yang tidak dimiliki oleh katak betina, sama halnya dengan ovarium dan sel telur yang hanya dimiliki oleh katak betina. DAFTAR PUSTAKA Arie, Usri. 1999. Pembibitan dan Perbesaran Bullfrog. Jakarta : PT Intermasa Jasin. Maskoen. 1992. Zoologi Vertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar Wijaya. Radiopoertro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga. Susanto, Heru. 1994. Budidaya Kodok Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar